Ramadhan

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Semoga Amal Ibadah Kita Diterima Oleh Allah SWT


By Euis

kata-kata

Jangan Kamu Melihat Orang dari Wajahnya Lihat Orang Dari Hatinya


By Euis

kata-kata

jangan lah kamu melihat orang dari luarnya saja tapi lihatlah orang dari dalam hatinya karna tidak setiap orang baik itu baik dan tidak setiap orang jahat itu jahat karna pasti mereka pernah melakukan kesalahan dan pernah membuat kebaikan dan jangan kamu sembunyikan seseatu yang sebenarnya itu buruk atau istilah kunonya munapik karna orang yang munapik merasa di yang paling benar dan selalu benar padahal yang dia lakukan belum tentu benar jang merasa kamu itu baik jadi merasa lebih baik dari orang lain dan jangan meraas kamu yang paling pintar karna ada yang lebi pintar dari kamu,kata- kata sering kali lebih bermakna bila disampaikan dari hati yang paling dalam , bukan dari mulut yang sering kali membuat kesalahan dan justru memperparah keadaan.jagalah teman kalian seperti kalian menjaga diri kaliam dari bahaya.................


By Euis

Senin, September 24

Ditemukan Lubang Keamanan Baru di Jaringan Wi-Fi

Sebuah lubang keamanan baru telah ditemukan di standar wireless 802.11 yang memungkinkan penyusup memutus koneksi jaringan wireless dalam radius satu kilometer.
Perlu diketahui, penerapan berbagai peranti yang mendukung jaringan wireless standar IEEE 802.11 sangat memungkinkan terjadinya pengiriman data pada saat yang sama. Fitur penangkal tubrukan transfer data inilah yang berlubang.

"Ketika jaringan wireless diserang, peranti akan membatalkan transmisi data," tutur salah satu juru bicara AusCERT, seperti dikutip Security Focus, Kamis (13/05).

Menurut para peneliti di Pusat Riset Keamanan Informasi, Universitas Teknologi Queensland (ISRC) di Australia, apabila ada penyusup di jaringan wireless maka server akan mematikan jaringan selama lima detik.
Kelemahan jaringan wireless itu ditemukan oleh Christian Wullems, Kevin Tham dan Jason Smith dari ISRC. Sementara dalam riset jaringan dan sistem keamanan wireless, Profesor Mark Looi --juga dari ISRC-- mengemukakan bahwa perusahaan yang mengembangkan wireless seharusnya menangani permasalahan tersebut dengan serius.

"Sangat mungkin sekali nantinya, seseorang bisa mematikan jaringan wireless tanpa diketahui oleh administrator," tutur Looi. "Jaringan wireless walau lebih nyaman daripada kabel, keamanannya perlu dikaji ulang."
Kalau sebelumnya serangan denial of service (Ddos) terhadap jaringan wireless perlu memakai beberapa peranti seperti antena high-power, kini ada cara baru yang lebih mudah. Penyerang bisa memanfaatkan hardware standar seperti PDA dan wireless card untuk mengacaukab trafik WLAN dalam radius tertentu.

Lubang kelemahan jaringan wireless akan terlihat ketika peranti menggunakan layer Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS), IEEE 802.11, 802.11b dan 802.11g yang berjalan dengan kecepatan rendah. Sementara peranti Wi-Fi 802.11a dan 802.11g yang berjalan di atas kecepatan 20Mbps tidak dapat ditembus oleh penyusup.
Jamie Gillespie, analis senior AusCERT mengatakan bahwa kelemahan tersebut tidak akan memutus jaringan wireless, hanya menyebabkan terganggunya arus transfer data sesaat saja. Menurut dia, lubang tersebut berbeda dengan kelemahan yang pernah terjadi pada skema enkripsi WEP - yang bisa menyebabkan data dilihat oleh penyusup.

Temuan ISRC tersebut dipresentasikan di Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE) Wireless Telecommunication Symposium, yang berlangsung di California, Amerika Serikat, Jumat (14/05). (komputeraktif.com)


25/11/2004, 12:38 pm
Jaringan nirkabel, Hotspot-UI !
Hotspot UI adalah sebuah layanan baru Jaringan UI Terpadu (JUITA) menggunakan teknologi nirkabel (wireless). Layanan ini sedang melalui berbagai tahap percobaan pada beberapa area akses terbatas, antara lain pada Gedung A-FASILKOM-UI dan Lantai 2 gedung Rektorat, Depok. Pada akhir tahun 2004, layanan ini sudah dapat digunakan pada beberapa tempat, seperti pada Gedung perpustakaan Pusat UI dan Gedung B-FASILKOM-UI.

alakadarnya

teman apa kalian tau apa yang aku rasakan dan apa kalian tau apa yang sebenarnya telah terjadi pada aku jangan hanya satu kesalahan yang aku buat persahabatan kita berabtakan tapi apa kamu peranah bertanya padaku apakah kamu pernah membauat kesalahan pada aku kamu ga pernah mau tau tentang perasan ku tapi aku harus selalu ngerti perasan kamu apakah itu adil bauta aku apakah kamu pernah memikirkan itu?
aku yakin kalian adalah teman-teman terbaikku yang aku miliki sekarang yang selalu aku perhatikan dan selalu aku jaga biarpun kalian ga pernah tau kalau aku itu ada disamping kalian tapi kalian ga pernah peduli mau aku ada atau tidak aku ga bisa apa-apa yang bisa aku lakukan hanya semoga kalian bisa bahagia karna denga itu aku pun bahagia .kalian tau apa artinya teman ?teman itu seorang yang yang ga pernah merasa cape karna kita sering mengeluh padany ,yang hanya dia inginkan adalah melihat temanya bahagia biar pun dia tau sebenarnya itu akan menyakitkan dia dan membuat dia sedih tapi demi kebahagian temannya dia rela berkorban.
itu yang sekarang seseorang rasakan apakah dia harus mempunyai teman apa tidak karna dia hanya sebagai pelampiasan dikala yang lain ga ada



makasih

Minggu, September 23

Tentang Domain Name Server (DNS)

Misalkan anda telah memiliki domain, katakan saja namanya domainku.com. Hal itu baru akan bermanfaat untuk anda jika, orang yang terhubung ke internet dimanapun di seluruh dunia dapat menggunakannya untuk mengunjungi website anda.

Bagaimana supaya komputer teman anda di Malaysia , misalnya, yang terhubung ke internet tentunya, dapat mengetahui bahwa domainku.com adalah alias dari (misalnya) IP address 202.145.6.66? Di dalam komputer teman itu tentu harus ada kumpulan data yang berisi seluruh (puluhan juta) nama domain yang ada di seluruh dunia beserta IP address masing2nya. Apakah demikian? Tidak lah yau Tidak perlu sampai demikian.

Di dalam komputer teman anda itu cukup hanya terdapat alamat (internet) yang dibutuhkan untuk mencari informasi tersebut, yaitu alamat DNS-nya, dimana biasanya disediakan oleh ISP yang menyediakan akses internet bagi teman anda tersebut. Pada DNS server biasanya tersedia sebagian dari data domain-ip dan juga alamat lanjutan untuk meneruskan pencarian jika yang dicari tidak ada di server tersebut. Dan begitu seterusnya sampai domain tersebut dapat diresolve ke IP tertentu. Setelah berhasil di resolve, browser (misalnya Internet Explorer, Firefox, dll) akan langsung menuju IP tersebut dan mengakses website anda. Btw, keseluruhan proses biasanya hanya dalam hitungan detik saja.

Agar nama domain anda dapat ditemukan, maka nama domain anda tersebut harus ada di salah satu DNS server yang terhubung terus menerus ke internet. Untuk itulah pada saat anda mendaftar domain, anda perlu mencantumkan nameserver (yang adalah IP dari server DNS) tempat nama domain anda akan .ditempelkan.. Anda tidak akan diperkenankan mendaftar nama domain jika anda belum menyiapkan server DNS untuk .dihuni. oleh domain tersebut.

Disclaimer :

Informasi diatas tidak dimaksudkan untuk 100% akurat secara teknis, karena dimaksudkan agar pengguna awam paham tentang konsep DNS. Para .tech freak. dilarang protes jika ada proses2 yang terlalu disederhanakan pada penjelasan di atas.

Rabu, September 19

cara cepat tentang dhcp

IP dinamik, dokumen ini menjelaskan secara singkat mengeset DHCP
di mesin Linux. Hanya terjemahan.

DHCP Server Step-by-Step

Apa itu DHCP
DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah protocol dimana
alamat IP secara otomatis diberikan dari server ke clients. Artinya
DHCP server menghandle pemberian alamat IP, sehingga komputer
yang lain dalamnetwork tidak perlu secara manual mengeset alamat
Ip-nya. Mensetting DHCP server berarti kita mengurangi pekerjaan
kebutuhan setup setting network pada setiap PC yang terkoneksi
dalam satu jaringan.

Untuk setup DHCP server di linux (disini digunakan Redhat 6.0)
diperlukan

LAN yag bekerja dengan baik
dhcpd (dhcp-2.0b1pl6-6.i386.rpm or newer)

Di redhat 6.0 semua yang dibutuhkan dalam kernel telah terkompiled in.
Jika dalam komputer anda ada beberapa network device misalnya:

eth0 - nyambung ke Internet
eth1 - nyambung ke LAN

Anda harus hati2 dalam menentukan interface mana yang akan
mempunyai DHCP service. Misalkan diingankan DHCP server menjawab
request hanya dari eth1, dan tidak untuk eth0 yang yang tekoneksi ke ISP.

Download DHCP server software
Cari di http://ww.rpmfind.net
atau
nohup wget -t0 ftp://ftp.isc.org/isc/dhcp/dhcp-3.0b1pl17.tar.gz

Mengkonfigurasi /etc/dhcpd.conf
Setelah DHCP (either by RPM or by source) terinstall, buat file konfigurasi
/etc/dhcpd.conf. Misalkan internal IP network address adalah 192.168.0.x
maka konfigurasi kira2 akan seperti ini

# /etc/dhcpd.conf
# DHCPD Configuration
default-lease-time 86400; # one day
max-lease-time 86400; # one day

subnet 192.168.0.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.0.2 192.168.0.250;
option subnet-mask 255.255.255.0;
option broadcast-address 192.168.0.255;
option routers 192.168.0.1;
## The IP address of the name server
option domain-name-servers 192.168.0.1;
option domain-name "mydomain.com";
## If you have Samba acting as a WINS server
option netbios-name-servers 192.168.0.1;
option netbios-dd-server 192.168.0.1;
option netbios-node-type 8;
option netbios-scope "";
}
Jika di Linux box anda memiliki Samba dan DNS maka diperluka ekstra
options yang spesifik dalam konfigurasinya. Jika DNS server anda
123.123.123.123 dan 123.123.123.124 maka diperlukan options berikut:

option domain-name-servers 123.123.123.123 123.123.123.124;

Jika tidak menggunakan Samba acting as a primary WINS server maka
bagian "option netbios-" perlu anda hapus atau di comment out.

Configuring /etc/rc.d/init.d/dhcpd
Jika menginstall DHCP dari paket rpm akan langsung didapat filestart up
/etc/rc.d/init.d/dhcpd Agar berjalan baik maka perlu di ubah sedikit

#!/bin/sh
#
# dhcpd This shell script takes care of starting and stopping
# dhcpd.
#
# chkconfig: 2345 65 35
# description: dhcpd provide access to Dynamic Host Control Protocol.

# Source function library.
. /etc/rc.d/init.d/functions

# Source networking configuration.
. /etc/sysconfig/network

# Check that networking is up.
[ ${NETWORKING} = "no" ] && exit 0

[ -f /usr/sbin/dhcpd ] || exit 0
[ -f /etc/dhcpd.conf ] || exit 0

# See how we were called.
case "$1" in
start)
# Start daemons.
echo -n "Starting dhcpd: "
/sbin/route add -host 255.255.255.255 dev eth1 2> /dev/null
daemon /usr/sbin/dhcpd eth1
echo
touch /var/lock/subsys/dhcpd
;;
stop)
# Stop daemons.
echo -n "Shutting down dhcpd: "
/sbin/route del -host 255.255.255.255 dev eth1 2> /dev/null
killproc dhcpd
echo
rm -f /var/lock/subsys/dhcpd
;;
restart)
$0 stop
$0 start
;;
status)
status dhcpd
;;
*)
echo "Usage: dhcpd {start|stop|restart|status}"
exit 1
esac

exit 0

Diperlukan penambahan
/sbin/route add -host 255.255.255.255 dev eth1 2> /dev/null
pada saat startup, dan penambahan options eth1 ketika dhcpd dijalankan
agar fungsi DHCP server hanya dapat direquest dari eth1

Menjalankan DHCP
Sebelum mejalankan DHCP pertama kali perlu dibuat dulu file leases kosong

# touch /etc/dhcpd.leases

Jika file startpup diatas telah dibuat jalankan dengan

# /etc/rc.d/init.d/dhcpd start

Atau jalakan manual seperti script diatas. Slesai, untuk setup di Windows sebagai
client maka perlu ditulis server yang memberikan alamat Ip dinamik, dan name server.

Diterjemahkan dari :
http://dcfonline.sfu.ca/ying/linux/dhcpd/index.html


---
eryan12@yahoo.com
http://paucits.itb.ac.id/~eryan

Membangun DHCP Server

DHCP-Dynamic Host Control Protocol
DHCP atau Dynamic Host Control Protocol membolehkan client dalam sebuah network mendapat IP dan maklumat-maklumat lain seperti gateway, DNS server dan WINS server secara automatik apabila dibootkan. Dengan menggunakan DHCP kerja-kerja pengendalian dapat dimudahkan terutamanya apabila melibatkan network yang besar dengan jumlah user yang ramai. Bayangkan jika anda mengendalikan sebuah network yang mengandungi 2000 user, kerja-kerja memasukkan IP dan maklumat-maklumat lain memakan masa yang banyak dan tenaga pekerja yang ramai. Tetapi dengan DHCP kerja-kerja ini dapat dikurangkan dan pengendalian IP dapat dibuat secara berpusat dan terkawal .Kerja-kerja troubleshooting seperti konflik IP amat mudah untuk dikawal kerana IP duplicate tidak akan berlaku.
Jangkamasa IP dan maklumat DHCP kekal bergantung kepada leased time yang ditetapkan. Client DHCP akan cuba memperbaharui maklumat mereka setiap kali tempoh leased mencapai 50% dari tarikh tamat . Ada 4 proses bagi client untuk mendapatkan maklumat DHCP.
i) DHCPDISCOVER Client menghantar broadcasts mesej DHCPDISCOVER pada 255.255.255.255 (seluruh network) dalam network untuk mencari lokasi DHCP server dan IP dan maklumat lain. Client juga menghantar maklumat seperti MAC address dan nama komputer tersebut supaya server mengetahui dari mana datangnya DHCP DISCOVER tersebut.
ii) DHCPOFFER Setelah menerima mesej DHCPDISCOVER tersebut kesemua DHCP server (mungkin ada lebih dari satu DHCP server dalam rangkaian) akan menghantar DHCPOFFER kepada client dengan maklumat-maklumat seperti MAC address client, ip address, subnet mask dan ip address DHCP server tadi. Client akan menerima tawaran pertama yang diterima oleh DHCP server tadi (katakan namanya DHCP server A) dan DHCP server A akan mereserve ip address yang diberi kepada client tersebut supaya tidak digunakan untuk client lain.
iii) DHCPREQUEST. Setelah menerima ip address dari satu DHCP server, client akan menghantar mesej DHCPREQUEST (bersama dengan ip address DHCP server A) kepada semua DHCP server untuk memberitahu bahawa client tersebut telah menerima IP dari satu DHCP server. DHCP lain akan menarik semula tawaran mereka.
iv) DHCPACK Akhir sekali, DHCP server A akan menghantar DHCPACK kepada client dan menghantar maklumat lain seperti gateway dan lain-lain. Apablia DHCPACK diterima oleh client, komunikasi TCP/IP bagi client adalah lengkap dan komunikasi boleh bermula!.
Konfigurasi DHCP dengan Linux
Server
Pada komputer Linux Red Hat 8.0 saya, berikut adalah contoh fail dhcp.conf yang boleh kita dapatkan di /usr/share/doc/dhcp-3.0pl1/dhcpd.conf.sample .
ddns-update-style interim;
ignore client-updates;
subnet 192.168.0.0 netmask 255.255.255.0 {
# --- default gateway
option routers 192.168.0.1;
option subnet-mask 255.255.255.0;
option nis-domain "domain.org";
option domain-name "domain.org";
option domain-name-servers 192.168.1.1;
option time-offset -18000;
# Eastern Standard Time#
option ntp-servers 192.168.1.1;
# option netbios-name-servers 192.168.1.1;
# --- Selects point-to-point node (default is hybrid). Don`t change this unless# -- you understand Netbios very well# option netbios-node-type 2;
range dynamic-bootp 192.168.0.128 192.168.0.255;
default-lease-time 21600;
max-lease-time 43200; # we want the nameserver to appear at a fixed address
host ns { next-server marvin.redhat.com; hardware ethernet 12:34:56:78:AB:CD;
fixed-address 207.175.42.254; }}

Anda boleh salin fail tersebut dan simpan sebagai /etc/dhcpd.conf
Gunakan arahan
# cp /usr/share/doc/dhcp-3.0pl1/dhcpd.conf.sample /etc/dhcpd.conf
Sebelum anda edit dapatkan maklumat berikut, nilai yang ada di bawah saya jadikan contoh :-
Parameter Nilai Nota
subnet 10.0.11.0 subnet rangkaian anda
netmask 255.255.255.0
option routers 10.0.11.254 Gateway rangkaian anda
option domain-name rangkaian.net Domain rangkaian
option domain-name-servers 10.0.11.2 DNS server

range dynamic-bootp 10.0.11.20 10.0.11.250 Dalam kes ini saya gunakan IP bermula dari 10.0.11.20 dan berakhir dengan 10.0.11.250 untuk client rangkaian saya.
default-lease-time 21600 IP tersebut akan kekal selama 6 jam
max-lease-time 43200 Maksimum akan kekal selama 12 jam
Edit dengan editor pilihan anda dan tukarkan nilai data berikut:-
Berikut adalah contoh /etc/dhcpd.conf yang saya gunakan:-
ddns-update-style interim;
ignore client-updates;
subnet 10.0.11.0 netmask 255.255.255.0 {
# --- default gateway
option routers 10.0.11.254;
option subnet-mask 255.255.255.0;
option domain-name "rangkaian.net";
option domain-name-servers 10.0.11.2;
range dynamic-bootp 10.0.11.20 10.0.11.250;
default-lease-time 21600; max-lease-time 43200;
# we want the nameserver to appear at a fixed address
host win2k {
hardware ethernet 00:D0:59:10:E5:7C;
fixed-address 10.0.11.222;
} }

DHCP

DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCP harus memberikan alamat IP kepada semua komputer secara manual. Jika DHCP dipasang di jaringan lokal, maka semua komputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat IP secara otomatis dari server DHCP. Selain alamat IP, banyak parameter jaringan yang dapat diberikan oleh DHCP, seperti default gateway dan DNS server.

DHCP didefinisikan dalam RFC 2131 dan RFC 2132 yang dipublikasikan oleh Internet Engineering Task Force. DHCP merupakan ekstensi dari protokol Bootstrap Protocol (BOOTP).

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Cara Kerja

Karena DHCP merupakan sebuah protokol yang menggunakan arsitektur client/server, maka dalam DHCP terdapat dua pihak yang terlibat, yakni DHCP Server dan DHCP Client.

DHCP server umumnya memiliki sekumpulan alamat yang diizinkan untuk didistribusikan kepada klien, yang disebut sebagai DHCP Pool. Setiap klien kemudian akan menyewa alamat IP dari DHCP Pool ini untuk waktu yang ditentukan oleh DHCP, biasanya hingga beberapa hari. Manakala waktu penyewaan alamat IP tersebut habis masanya, klien akan meminta kepada server untuk memberikan alamat IP yang baru atau memperpanjangnya.

DHCP Client akan mencoba untuk mendapatkan "penyewaan" alamat IP dari sebuah DHCP server dalam proses empat langkah berikut:

  1. DHCPDISCOVER: DHCP client akan menyebarkan request secara broadcast untuk mencari DHCP Server yang aktif.
  2. DHCPOFFER: Setelah DHCP Server mendengar broadcast dari DHCP Client, DHCP server kemudian menawarkan sebuah alamat kepada DHCP client.
  3. DHCPREQUEST: Client meminta DCHP server untuk menyewakan alamat IP dari salah satu alamat yang tersedia dalam DHCP Pool pada DHCP Server yang bersangkutan.
  4. DHCPACK: DHCP server akan merespons permintaan dari klien dengan mengirimkan paket acknowledgment. Kemudian, DHCP Server akan menetapkan sebuah alamat (dan konfigurasi TCP/IP lainnya) kepada klien, dan memperbarui basis data database miliknya. Klien selanjutnya akan memulai proses binding dengan tumpukan protokol TCP/IP dan karena telah memiliki alamat IP, klien pun dapat memulai komunikasi jaringan.

Empat tahap di atas hanya berlaku bagi klien yang belum memiliki alamat. Untuk klien yang sebelumnya pernah meminta alamat kepada DHCP server yang sama, hanya tahap 3 dan tahap 4 yang dilakukan, yakni tahap pembaruan alamat (address renewal), yang jelas lebih cepat prosesnya.

Berbeda dengan sistem DNS yang terdistribusi, DHCP bersifat stand-alone, sehingga jika dalam sebuah jaringan terdapat beberapa DHCP server, basis data alamat IP dalam sebuah DHCP Server tidak akan direplikasi ke DHCP server lainnya. Hal ini dapat menjadi masalah jika konfigurasi antara dua DHCP server tersebut berbenturan, karena protokol IP tidak mengizinkan dua host memiliki alamat yang sama.

Selain dapat menyediakan alamat dinamis kepada klien, DHCP Server juga dapat menetapkan sebuah alamat statik kepada klien, sehingga alamat klien akan tetap dari waktu ke waktu.

Catatan: DHCP server harus memiliki alamat IP yang statis.

[sunting] DHCP Lease

DHCP Lease adalah batas waktu penyewaan alamat IP yang diberikan kepada DHCP client oleh DHCP Server. Umumnya, hal ini dapat dikonfigurasikan sedemikian rupa oleh seorang administrator dengan menggunakan beberapa peralatan konfigurasi (dalam Windows NT Server dapat menggunakan DHCP Manager atau dalam Windows 2000 ke atas dapat menggunakan Microsoft Management Console [MMC]). DHCP Lease juga sering disebut sebagai Reservation.

[sunting] DHCP Scope

DHCP Scope adalah alamat-alamat IP yang dapat disewakan kepada DHCP client. Ini juga dapat dikonfigurasikan oleh seorang administrator dengan menggunakan peralatan konfigurasi DHCP server. Biasanya, sebuah alamat IP disewakan dalam jangka waktu tertentu, yang disebut sebagai DHCP Lease, yang umumnya bernilai tiga hari. Informasi mengenai DHCP Scope dan alamat IP yang telah disewakan kemudian disimpan di dalam basis data DHCP dalam DHCP server. Nilai alamat-alamat IP yang dapat disewakan harus diambil dari DHCP Pool yang tersedia yang dialokasikan dalam jaringan. Kesalahan yang sering terjadi dalam konfigurasi DHCP Server adalah kesalahan dalam konfigurasi DHCP Scope.

[sunting] DHCP Options

DHCP Options adalah tambahan pengaturan alamat IP yang diberikan oleh DHCP ke DHCP client. Ketika sebuah klien meminta alamat IP kepada server, server akan memberikan paling tidak sebuah alamat IP dan alamat subnet jaringan. DHCP server juga dapat dikonfigurasikan sedemikian rupa agar memberikan tambahan informasi kepada klien, yang tentunya dapat dilakukan oleh seorang administrator. DHCP Options ini dapat diaplikasikan kepada semua klien, DHCP Scope tertentu, atau kepada sebuah host tertentu dalam jaringan.

Dalam jaringan berbasis Windows NT, terdapat beberapa DHCP Option yang sering digunakan, yang dapat disusun dalam tabel berikut.

Nomor DHCP Option Nama DHCP Option Apa yang dikonfigurasikannya
003 Router Mengonfigurasikan default gateway dalam konfigurasi alamat IP. default gateway merujuk kepada alamat router.
006 DNS Servers Mengonfigurasikan alamat IP untuk DNS server
015 DNS Domain Name Mengonfigurasikan alamat IP untuk DNS server yang menjadi "induk" dari DNS Server yang bersangkutan.
044 NetBIOS over TCP/IP Name Server Mengonfigurasikan alamat IP dari WINS Server
046 NetBIOS over TCP/IP Node Type Mengonfigurasikan cara yang digunakan oleh klien untuk melakukan resolusi nama NetBIOS.
047 NetBIOS over TCP/IP Scope Membatasi klien-klien NetBIOS agar hanya dapat berkomunikasi dengan klien lainnya yang memiliki alamat DHCP Scope yang sama.


Repearer,brtdge,router & geteway

Mungkin ada di antara kita sering mendengar atau menggunakan istilah-istilah pada judul di atas. Namun apa beda masing-masing dari istilah itu?

REPEATER (bekerja pada Physical Layer)
Digunakan untuk mengatasi keterbatasan (jarak, kualitas sinyal) fisik suatu segmen jaringan.
Dapat juga digunakan untuk menggabungkan beberapa segmen suatu jaringan yang besar (misalnya Ethernet to Ethernet)
Namun dalam membangun jaringan fisik yang besar, perlu diperhatikan bahwa aturan panjang kabel maksimum tidak dapat dilampaui dengan menggunakan repeater ini. Contohnya, kabel coaxial 50 ohm pada Ethernet hanya bisa total sampai 2,3 km dan batasan ini tidak dapat diatasi dengan menggunakan repeater.
Karena bekerja pada physical layer, repeater tidak dapat menghubungkan misalnya antara protokol data link layer yang berbeda (misalnya Ethernet dengan Token Ring). Hal ini disebabkan karena repeater mempunyai bit korespondensi dengan data link atau network layer.

Hub mempunyai fungsi sebagai repeater, oleh karena itu hub kadang juga disebut sebagai multiport/modular repeater.
Harap diperhatikan, penggabungan dua atau lebih segmen network dengan menggunakan repeater akan mengakibatkan seluruh traffic data akan menyebar ke seluruh jaringan, tanpa memandang apakah traffic data tsb diperlukan atau tidak di seluruh jaringan. Jika jumlah station semakin banyak, dan traffic data sangat tinggi, maka beban pada backbone jaringan tentunya akan menjadi berat. Akhirnya kinerja jaringan akan menurun, dan kelambatan akses akan terasa.
Untuk itulah dalam merancang sebuah network, seorang network administrator memerlukan pengetahuan dan antisipatif terhadap beban jaringan yang akan terjadi.
Pengetahuan tentang topologi fisik, logic, manajemen traffic jaringan, jenis dan karakteristik protocol pada masing-masing physical sampai dengan application layer sangat diperlukan.

BRIDGE - bekerja pada Data Link layer (2)
Bridge mengatur (melalui filtering atau forwarding) frame data per segmen, sehingga jika w/s 1 akan mengirim data ke w/s 2, frame tidak akan diteruskan (forward) ke segmen 2. Hal ini mengakibatkan beban jalur setiap segmen menjadi optimal, dan overhead traffic pada setiap segmen dapat dikurangi.
Sekarang kita bahas mengenai jenis-jenis bridge.
Transparent Bridge
Melakukan bridging antara 2 atau lebih segmen LAN. Jenis bridge ini juga dapat melakukan bridging pada jenis media physical layer yang berbeda (UTP, coax, fiber dll). Pengaturan bridge jenis ini dapat dilihat pada dokumen standar IEEE 802.1D.

Translating Bridge
Adalah jenis bridge yang mampu untuk melakukan bridging antar protocol pada data link layer (contoh Ethernet dengan Token Ring). Dengan demikian terjadi proses konversi jenis frame data dan transmission rate masing-masing protocol. Proses ini dilakukan pada preamble dan FCS (frame check sequence).
Pada bagian lain kita akan membahas pula bagaimana menghitung performance network dalam hubungannya dengan penerapan kedua jenis bridge ini.
Masalah yang ada pada segmentasi Ethernet
Dasar dari dibaginya sebuah network dalam beberapa segmen yang menggunakan bridge mengacu pada rancangan topologi jaringannya. Misalnya dalam sebuah network yang terdiri dari departemen A dan B, maka untuk mengurangi overhead traffic jaringan secara keseluruhan dibuatlah segmen fisik A dan B. Dengan tujuan agar traffic pada segmen A jika tidak diperlukan ke segmen B, benar-benar hanya berlalulalang di segmen A saja.

Telah kita ketahui bahwa bridge melakukan filtering dan forwarding frame pada masing-masing segmen nya yang menimbulkan konsekuensi jika filtering dan forwarding rate menjadi besar maka akan mempengaruhi kinerja jaringan secara keseluruhan.

Teknologi switching hub menjawab permasalahan ini dengan cara kerja sebagai berikut:
Saat sebuah node akan berhubungan dengan node lain yang berbeda segmen, peralatan ini akan menjadi bridge dan membuka sebuah jalur langsung ’sementara’ dengan acuan source dan destination address Ethernet nya.

Switching hub bekerja pada Ethernet MAC (Media Access Control) sublayer.
Setiap port pada hub jenis ini dapat menjamin throughput nya tetap 10 Mbps. Karena jika pada hub non switch, jika terdapat misalnya 8 port Ethernet, maka dalam hitungan mudahnya setiap port akan hanya memperoleh 10 Mpbs / 8 port = 1,25 Mbps.

Switching hub
Switching hub bekerja pada Ethernet MAC (Media Access Control) sublayer.
Diagram hubungan antara OSI dan IEEE 802 standar
MAC = Media Access Control
802.3 - CSMA/CD (di Ethernet)
802.4 - TOKEN BUS
802.5 - TOKEN RING
802.6 - DQDB MAN (Distributed Que Dual Bus Metropolitan Area Network)

Buffering pada switch
Pada switch hub digunakan minimal sebuah CPU dan memory untuk melakukan packet buffering. Sebuah switch mampu menerima semua paket data dalam koneksi yang ada secara serentak. Kemudian paket data diteruskan hanya kepada alamat tujuan (destination address).
Setiap paket berisi dua MAC layer address yaitu alamat pengirim (source) dan tujuan (destination). Switch akan menyimpan dalam sebuah tabel MAC address yang digunakan untuk mencocokan koneksi yang harus dilakukan. Penggunaan tabel ini juga untuk menentukan kemana paket data harus dikirim. Jumlah tabel MAC address biasanya juga terdapat dalam spesifikasi switch, yang dapat mencapai ribuan alamat.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kapasitas memory dalam switch. Karena perlu diingat pula bahwa bentuk lalu lintas paket data dapat dibagi dua golongan yaitu : peer to peer/point to point dan satu ke banyak koneksi (one to many, misalnya w/s ke server).

Beberapa teknik yang digunakan pada switching hub:
internal bus - pada high end switch -> gigabytes
shared memory / packet bus
memindahkan satu koneksi dalam switch ke koneksi lain

Parameter penting lainnya adalah ukuran packet per second (pps). Sebagai contoh sebuah merk switching hub dapat memproses sampai dengan 150.000 pps pada koneksi 100baseT (fast ethernet) dan 1/10 nya pada koneksi 10baseT.

Metode kerja switching
Cut through, yaitu menentukan route paket yang diterima langsung ke alamat port tujuan. Tentu saja hal ini akan meningkatkan throughput koneksi dan mengurangi latency pengiriman paket. Cara kerjanya adalah, ketika sebuah bagian paket diterima, langsung route dan pengiriman dilakukan ke alamat tujuan. Proses ini tidak dilakukan dengan cara mengumpulkan terlebih dahulu seluruh paket, baru kemudian dikirim. Jika koneksi tujuan sedang digunakan, switch akan menampung paket data yang diterima tsb pada buffer. Dan paket data akan dikirim dari buffer jika koneksi tujuan telah kosong.

Potensi terjadinya network overhead dapat terjadi ketika network digunakan pada aplikasi yang bersifat mem-broadcast paket data, misalnya network games. Switching dapat digunakan
untuk mengatasi masalah ini, melalui pembatasan jalur spt telah diterangkan di atas (lihat juga posting sebelumnya). Adapula switching hub yang dapat diatur pembatasan distribusi paket broadcast ini.

Aplikasi dan disain jaringan dengan switch
Sebuah server yang menangani berbagai workstation, biasanya menggunakan beberapa network interface card (NIC) yang diatur segmentasinya berdasarkan aplikasi jaringannya, misalnya per departemen. Sebagai alternatif lain, cara seperti ini dapat dilakukan pula dengan lebih mudah dan efektif dengan menggunakan switching hub.

Contoh kasus dalam disain:
Dalam skenario di bawah ini, masing-masing workstation masih menggunakan ethernet card 10baseT (10 megabits per second).
Koneksi Fast Ethernet 100baseT digunakan untuk server, sedangkan port lainnya digunakan untuk dihubungkan dengan 2 buah hub 10baseT. File server sesuai dengan fungsinya akan menerima dan mengirim data pada rate yang sangat tinggi, sedangkan workstation akan mengirim paket data dengan kemungkinan (probabilitas) tanpa terjadinya collision. Skenario seperti ini biasanya akan memperbaiki kinerja jaringan secara keseluruhan. Mengapa? Karena jika segmen jaringan mempunyai kapasitas yang sama, throughput dari switch hub ke file server masih lebih tinggi dibandingkan dengan hub pada level di bawahnya. Dan switch dapat secara langsung melakukan routing packet dalam segmen fisik jaringan secara lebih cepat.

Switch dan Virtual LAN (VLAN)
Teknik switching hub yaitu melakukan routing packet Ethernet berdasarkan source dan destination address nya.
Mengapa diperlukan segmentasi atau partisi dalam jaringan? Pertimbangannya adalah : 1) Keamanan (security), 2) Kinerja jaringan.
Security diperoleh dari pembatasan akses ke suatu server dengan pembatasan routing paket data. Kinerja dapat dipertahankan dengan mengatur routing packet, khususnya broadcast packet dalam suatu VLAN.

Lalu bagaimanakah menggabungkan keduanya dalam suatu skema yang simpel yang juga memudahkan topologi fisik suatu jaringan? Teknik VLAN dapat diterapkan untuk ini, karena VLAN dapat membuat suatu segmentasi logic dalam suatu jaringan.
VLAN dapat melakukan partisi/segmentasi dengan dua cara yaitu berdasarkan nomor port pada switching hubnya atau alamat MAC dari workstation-nya.
Perlu diketahui bahwa TIDAK semua switching hub dapat melakukan VLAN, apalagi jika beberapa switching hub saling dihubungkan. Walaupun dari merk yang sama, ada atau tidaknya kemampuan ini perlu diteliti terlebih dahulu.

Kapan menggunakan switch dan router?
Kapan menggunakan switch dan router adalah pertanyaan yang selalu menggelitik bagi para network manager dalam merancang suatu jaringan. Rangkaian tulisan ini mencoba mengupas secara gamblang tentang berbagai aspek yang menyangkut penggunaan switching hub dan router.

Perbedaan mendasar antara switch versus router dan bridge adalah router dan bridge menggunakan metode ’store and forward’. Sedangkan switch bekerja dengan cara on the fly switching. Router mengambil seluruh paket sebelum paket tersebut diteruskan ke tujuan. Metode store and forward membawa seluruh frame data ke dalam peralatan, yang kemudian di-buffer untuk dalam sebuah satuan waktu. Akan lebih jelas jika kita memperhatikan TCP/IP layers, seluruh frame header akan melewati layer data link kemudian dibawa ke layer di atasnya yaitu network layer untuk diketahui tipe dari frame nya. Baru kemudian diteruskan ke alamat network yang dituju melalui data link layer kemabli. Proses ini berlaku untuk seluruh frame yang melintas di router.

Lain halnya dengan switch yang hanya mengambil 20 byte pertama dari sebuah frame. Karena switch tidak mengambil seluruh frame, namun hanya pada alamat tujuan (destination address) sebelum meneruskan frame tersebut ke alamat tujuan, maka network latency atau jeda (delay) yang terjadi akan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan router.

Secara kalkulatif, per frame mempunyai delay selama 30 microsecond menuju dan keluar dari switch. Untuk bridge dan router, latency yang ditimbulkan dapat mencapai lebih dari 2000 microsecond per frame untuk dapat melakukan koneksi pada secara timbal balik.

Untuk menentukan cara apakah yang akan dipakai, diperlukan perencanaan yang matang khususnya dalam menganalisis volume lalu-lintas data dalam LAN dan WAN (lihat seri tulisan ini berikutnya mengenai cara menghitung estimasi volume traffic pada jaringan). Apalagi jika jaringan akan digunakan untuk keperluan Intranet yang mempunyai banyak workstation/client dengan berbagai aplikasi termasuk multimedia, sudah barang tentu traffic dalam jaringan LAN akan menjadi sangat besar. Dengan demikian potensi terjadinya latency atau delay juga akan semakin besar. Akhirnya kinerja jaringan secara keseluruhan akan tidak optimum dan end-user akan mengatakan bahwa aksesnya lambat!

Perlu juga digarisbawahi bahwa switch dapat memecahkan masalah jika memang masalah disebabkan oleh bottleneck jaringan khususnya pada layer data link. Karena lambatnya akses data/informasi pada jaringan sangat mungkin juga disebabkan oleh faktor kinerja dari server, disk atau aplikasinya.

Cara kerja switch
Jika akan menggunakan switching hub, diperlukan beberapa informasi dasar untuk menentukan pilihan switch, yaitu dengan mengetahui cara kerjanya.

- Cut through
Yaitu menentukan route paket yang diterima langsung ke alamat port tujuan. Tentu saja hal ini akan meningkatkan throughput koneksi dan mengurangi latency pengiriman paket. Pengiriman dilakukan tanpa terlebih dahulu mengumpulkan seluruh paket. Tetapi ketika alamat tujuan diketahui, langsung route dan pengiriman dilakukan ke alamat itu. Untuk satu paket Ethernet (1518 byte) proses ini memerlukan waktu hanya selama 40 microsecond. Dalam keadaan koneksi tujuan sedang digunakan, switch akan menampung paket data yang diterima untuk dimasukkan ke dalam buffer. Dan paket data akan dikirim dari buffer jika koneksi tujuan telah kosong.

- Store and forward
Cara kerjanya dilakukan dengan mengumpulkan seluruh paket hingga lengkap ke dalam memory switch dan melakukan pemeriksaan kesalahan dengan metode CRC (Cyclic Redundancy Check). Waktu yang diperlukan untuk melakukan proses untuk setiap paket Ethernet adalah 1,2 milidetik. Karena diperlukan memory yang cukup, ada potensi terjadinya latency dalam store and forward switch ini yang disebabkan oleh penuhnya memory yang ada untuk menampung seluruh paket dan tabel dari ntwork address.

Walaupun cara cut through akan mengurangi terjadinya latency, tetapi konsekuensinya, paket data yang rusak juga akan juga sampai ke alamat tujuan. Kebalikannya, hal ini tidak terjadi pada store and forward switch.

Dari kedua cara di atas, ada pula switch yang menggabungkan kedua cara tsb yang disebut hybrids. Pada saat awal menggunakan cara cut through switching, dan melakukan pemeriksaan CRC, kemudian menghitung jumlah error yang ada. Jika jumlah error telah sampai pada batas tertentu, switch akan bekerja dengan cara store and forward sampai dengan kondisi jumlah error telah berkurang. Selanjutnya switch akan kembali bekerja dengan cara cut through. Cara termudah untuk mengetahui adanya kemampuan ini adalah dengan melihat ada atau tidaknya keterangan threshold detection atau adaptive switch dalam spesifikasi teknisnya.

Layer 3 Switching (L3S)
Layer 3 switching atau IP switching yang diperkenalkan tahun 1997 adalah teknologi Ethernet switching yang menggunakan informasi IP address untuk menyeleksi dan menentukan jejak data dalam network.

Packet switching throughput dapat mencapai jutaan paket per detik (pps.) Secara hardware, router biasa mengandalkan kemampuan mikroprosesor dari mesin yang digunakan. Sedangkan Layer 3 switch menggunakan application-specific integrated circuit (ASIC) yang dapat menghasilkan thoroughput lebih tinggi.

Untuk mencapai unjuk kerja maksimum, selain penggunaan Layer 3 switching juga diperlukan faktor lain yaitu route processing dan intelligent network.

Referensi:
Susan Biagi, Switching VS Routing, STACK, The Network Journal For VARS and Integrators,
Juli 1994, hal 13.
Stuart Hamilton, Cisco Manager of Enterprise Network Design, Layer 3 Switching - Looking beyond Performance, Packet ™ Magazine Archives, Third Quarter 1998
Ed Mier, Rob Smithers, Tom Scavo, Bob Neubaum, Business Communication Review, Layer 3 Switches–Ready to Route Volume 28, Number 10 October 1998, hal 34-40.

Nortel Rilis Secure Router

TEMPO Interaktif, Jakarta: Nortel meluncurkan Secure Router untuk memperluas manfaat konvergensi tidak hanya kantor pusat namun menjangkau kantor-kantor cabang. Produk baru ini didesain untukjaringan enterprise yang kaya fitur dan sempurna untuk mendukung berbagai aplikasi real-time penting termasuk aplikasi-aplikasi data, suara, video dan streaming media.

Jajaran produk Nortel Secure Router 1000 terdiri dari seri 1001, 1002 dan 1004 yang dirancang untuk penggunaan di kantor-kantor kecil dan kantor cabang, serta Secure Router 3120 untuk kantor cabang berskala menengah.

Selain mudah dalam pemasangan dan interoperabilitas, Nortel Secure Router memberikan kinerja dua kali lebih tinggi dengan biaya 25 persen lebih rendah dibanding menggunakan router dari vendor lain.

"Jajaran produk ini memiliki layanan kaya fitur dan keamanan untuk pelanggan kami, serta menghadirkan berbagai kemampuan yang dimiliki kantor pusat di kantor cabang," ujar Aziz Khadbai, General Manager, Converged Data Networks.

"Kami telah menggunakan Nortel Secure Router 1004 dan Business Communication Manager di kantor-kantor cabang kami," ujar Lisa J. Harris, CIO, Gevity. Gevity, yang berpusat di Bradenton, Florida yang memiliki kantor cabang di seluruh Amerika Serikat, menyediakan solusi-solusi pengelolaan karyawan secara insource untuk bisnis skala kecil dan menengah.

Nortel membeli Tasman Networks senilai $99,5 juta untuk menyediakan solusi konvergensi end-to-end yang lengkap dan melengkapi portofolio secure router yang telah dimiliki Nortel bagi kebutuhan kantor cabang. Akuisisi Tasman Network telah selesai dilakukan pada 24 Februari 2006.

Budi Putra

Instalasi OpenSUSE Secara Remote

Kita bisa melakukan installasi dari lokasi yang berbeda, baik berbeda lantai, beda gedung, beda kota, bahkan beda negara kalau perlu. Feature ini sangat berguna untuk keperluan corporate dimana mungkin di tiap cabangnya belum tentu ada orang IT-nya.

Artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman menginstall jarak jauh menggunakan distro OpenSuse 10.1 dan Fedora Core 5. Satu-satunya persyaratan yang diperlukan untuk hal ini adalah koneksi network. Penulis menggunakan koneksi wlan 64 kbps dari pusat dan cabang. Program remote control yang digunakan adalah TightVNC atau Krdc.

Langkah-langkahnya sangat sederhana:

  1. Siapkan CD distro yang diperlukan.
  2. Kirim ke cabang yang kita inginkan.
  3. Minta personel cabang untuk mengeboot komputer yang ingin kita install menggunakan CD tersebut.
  4. Nah, ketika komputer mulai booting dan layar installer Linux telah muncul, kita ketikkan option ini:

vnc=1 vncpassword=123456

Tekan Enter, selanjutnya kernel akan di load. Setelah itu, kita akan ditanyakan bagaimana cara menyetel networknya, apakah memakai DHCP ataupun manual, pilih manual.

Masukkan IP address, subnet mask, gateway, dan DNS.
Selesai. Nanti kita bisa mengaksesnya menggunakan VNC ataupun browser (kalau OpenSuse).

You can connect to 192.168.1.99, display :1 now with vncviewer
Or use a Java capable browser on http://192.168.1.99:5801

Di vncviewer kita ketikkan: ipaddress:screenid, jadi misalnya: 192.168.1.99:1
Atau kalau mau lewat browser, kita ketikkan: http://192.168.1.99:5801

Berikut ini adalah contoh screenshotnya:

Tampilan installasi FC di VNC


Tampilan installasi OpenSuse di VNC


Tampilan installasi OpenSuse10.1 di web browser

Referensi :

  1. Menginstall Linux dari Jarak Jauh

membuat router di suse

Persiapan membuat router
1. Snack, untuk saat mengkonfigurasi router tidak bete
2. Minuman, setelah makan snack agar tidak tersedak

IP eth 0 : 197.187.87.0/28
IP eth 1 : 165.155.121.0/24
GW : 197.187.87.1
DNS : 215.155.200.45
215.155.200.46

Mengaktifkan fungsi routing
# echo 1>/proc/sys/net/ipv4/ipforward

Membuat routing dengan target berupa sebuah network
# route add -net 168.155.121.0/24 gw 165.155.121.1

Membuat routing table
# iptables -t nat -A POSTROUTING -s 165.155.121.0/24 -j MASQUERADE

Menyimpan iptables
# iptables-save > /etc/sysconfig/iptables-net

Agar iptables langsung start saat komputer baru hidup,
# mcedit /etc/init.d/network
tambahkan
iptables-restore < /etc/sysconfig/iptables-net
Simpan hasil konfigurasi

Cek dengan melakukan ping dari client, setelah konek atau TTL berarti router yang telah kota buat berhasil.

Selamat mencoba.

Instalasi Webmin pada OpenSUSE

Webmin adalah aplikasi yang dapat digunakan untuk melakukan administrasi sistem melalui web. Keunggulan utama dari webmin adalah standarisasi. Jika kita sudah berpengalaman melakukan konfigurasi sistem melalui webmin pada distro Linux lain, kita bisa melakukan hal yang sama pada OpenSUSE.

Sebelum melakukan instalasi webmin, install library untuk SSL (perl-Net_SSLeay) menggunakan YAST. Library ini sudah disertakan pada CD/DVD. Fungsi dari library ini adalah mengaktifkan modus SSL yang lebih aman untuk akses melalui web.

Instalasi webmin dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan file RPM dan file tarball.
File RPM

  1. Download Webmin dalam bentuk rpm dari Website Webmin
  2. Copy ke lokasi install. Terserah mau copy kemana, asal ingat lokasi tempat copy. Misalnya /opt
  3. Install Webmin
  4. - Buka Konsole / Terminal
    - Masuk ke lokasi install

    cd /opt
    rpm -ivh webmin-X.XXX.rpm

File Tarball (tar.gz)

  1. Untar versi tarball
  2. tar zxvf webmin-X.XXX.tar.gz

  3. Masuk ke folder hasil tar
  4. cd webmin-X.XXX (atau cd /opt/webmin-X.XXX)

  5. Jalankan file setup (jika tidak ada file .sh, gunakan file .pl)
  6. ./setup.sh

  7. Isi semua konfigurasi sesuai pertanyaan installer webmin

Selesai installasi, webmin dapat diakses melalui URL : http://NamaKomputer:port (10000 adalah port default. Jika kita ubah saat instalasi, sesuaikan portnya). Bisa juga dengan URL http://IPAddress:port.

Catatan :
Jika kita belum sempat melakukan instalasi library perl untuk ssl (perl-Net_SSLeay), kita dapat melakukannya setelah proses install webmin. Lakukan instalasi library melalui YAST, kemudian lakukan perubahan pada file konfigurasi untuk mengaktifkan modus https.

- Buka file /etc/webmin/miniserv.conf
- Ganti ssl = 0 menjadi ssl = 1
- Restart webmin (bisa melalui menu di webmin)
- buka webmin menggunakan browser dengan mengganti protokol URL http menjadi https (https://namakomputer:port atau https://ipaddress:port).
Jika module webmin ada yang belum tersedia, modul tersebut dapat didownload dari sini.

Referensi :

  1. Instalasi Webmin [SUSE Linux]
  2. Instalasi Webmin SUSE 10.1

include

1. Latar Belakang

IPv6 yang diluncurkan sejak tahun 1994 kini telah mulai diarahkan untuk menggantikan kedudukan IPv4 sebagai protokol transport di Internet. Hal ini dikarenakan alokasi alamat IPv4 yang tersedia di dunia sangat terbatas, sehingga hal ini menjadi hambatan bagi yang ingin terhubung ke Internet dengan menggunakan alamat yang unik. IPv6 menyediakan ruang pengalamatan yang sangat besar (3.4 x 10^38). Didukung oleh spesifikasi IPv6 yang telah selesai (dalam bentuk RFC yang dikeluarkan IETF), maka tahap implementasi sangat dimungkinkan, sekaligus ditunjang oleh mulai banyaknya aplikasi aplikasi yang telah mendukung IPv6.
Untuk dapat berpartisipasi di Internet IPv6, meski telah tersedia ajang testbed 6Bone, alokasi pTLA (pseudo TLA) dengan prefix 3ffe:: tidak dijadikan pilihan saat ini karena masa operasionalnya telah mendekati batas akhir, yaitu phase-out telah dijadwalkan pada akhir 2005 atau pertengahan 2006, karena itu alokasi IPv6 yang ITB peroleh dari AI3, merupakan bagian dari TLA milik WIDE Project yang telah operasional.
Pada lingkungan AI3 telah mulai digalakkan penggunaan IPv6 bagi partner anggota AI3, maka hal ini sejalan dengan aktivitas ITB untuk mulai mengimplementasikan jaringan IPv6 di lingkungan kampus dan Internet. Salah satu aktivitas yang diusulkan kepada anggota nanti akan meliput penggunaan IPv6 secara intensif untuk beberapa trafik khusus, seperti pendistribusian content multicast melalui UDL (UniDrectional Link), video dan audio streaming untuk acara kelas jarak-jauh dalam program SOI (School of Internet), dan sebagainya.
Sebagai salah satu institusi pendidikan di Indonesia ITB berencana untuk mengambil inisiatif untuk menjadi salah satu pelaku pertama yang menyelenggarakan dan mengoperasikan jaringan IPv6, sehingga diharapkan pengalaman awal dapat diperoleh dari sini, untuk dapat dijadikan bahan penelitian dan riset di bidang jaringan. Misi lain yang diemban ITB tentunya bermaksud untuk mensosialisasikan implementasi IPv6 ini sehingga dapat dijadikan solusi bagi penyedia jasa Internet di Indonesia untuk terkoneksi dan membangun jaringan komputer dengan menggunakan IPv6.

2. Kebutuhan Dalam Implementasi

Untuk mengimplementasikan suatu jaringan IPv6, yang pertama-tama dibutuhkan adalah alokasi prefix IPv6 yang unik, yang bisa diperoleh dari penyedia jasa Internet seperti ISP, APJII, APNIC atau yang lain.
Kebutuhan selanjutnya adalah infrastruktur jaringan yang telah mendukung IPv6. Telah kita ketahui bersama bahwa IPv6 terdefinisi pada layer 3, maka perangkat hardware/software layer 2 kebawah yang telah ada dapat digunakan, sehingga hanya perangkat jaringan pada layer network seperti router harus dipersiapkan untuk mendukungnya.
Aplikasi jaringan sebagai layer selanjutnya tentu saja juga harus ikut mendukung IPv6, sehingga komunikasi antara client IPv6 dengan server IPv6 dapat dilangsungkan.
IPv6 adalah teknologi baru yang akan menggantikan teknologi lama IPv4, karena itu dibutuhkan niat dan usaha yang lebih dari pengelola dan pengguna jaringan (yang dapat digeneralisasi sebagai komunitas saja) untuk mengimplementasikan (dan melakukan migrasi nantinya) ke IPv6.

3. Kondisi di ITB

ITB telah mendapatkan alokasi prefix IPv6 sTLA (sub TLA) dari AI3, yaitu:
• 2001:200:800:3000::/64
• 2001:200:830::/44
Prefix pertama adalah untuk POP (Point of Presence) yang digunakan untuk pertukaran informasi ruting jaringan dengan peer-peer lain, sedangkan prefix kedua adalah untuk ORG (Organization -> ITB) yang akan didistribusikan ke subnet-subnet lokal.
Untuk infrastruktur, ITB memiliki backbone kampus yang dibangun melalui interkoneksi antara router-router utama yang berfungsi untuk mendistribusikan prefix IPv4 167.205/16 ke subnet-subnet lokal atau ke router lain dibawahnya. Sayangnya produk router yang digunakan saat ini belum memiliki kemampuan untuk IPv6. (hal ini akan dibahas lebih lanjut pada point berikutnya).
Aplikasi jaringan yang telah mendukung IPv6 telah bermunculan dan siap digunakan, termasuk didalamnya beberapa aplikasi penyokong operasional dari Internet, misalnya Bind, Sendmail, Postfix, Apache, ISC-DHCP, dan lain-lain. Kalangan open source juga telah menambahkan kemampuan IPv6 pada produk-produk aplikasi client dan servernya, bahkan vendor Microsoft (sebagai produsen produk aplikasi dan sistem operasi yang paling banyak digunakan di dunia) telah menambahkan kemampuan IPv6 sejak Windows XP pertama kali dirilis, dan kini pada tahun 2003 ini telah dirilis Windows Server 2003 yang mendukung IPv6 secara default. Hal ini meliputi aplikasi-aplikasi networking standar, dan juga termasuk aplikasi-aplikasi server yang ada pada IIS.
Meski demikian di ITB belum banyak yang telah menggunakan kemampuan IPv6 dari aplikasi-aplikasi tersebut (apalagi yang secara spesifik ingin menggunakan kemampuan IPv6 nya saja). Pengguna hanya terbatas pada orang-orang yang ingin mencoba-coba mempelajari IPv6, untuk sekedar melihat ‘The Dancing-Turtle’ pada halaman pertama http://www.kame.net dengan menggunakan IE, melakukan ping6 atau traceroute6 ke site-site IPv6, atau mencoba tunneling dengan bermacam-macam tunnel-broker IPv6 yang banyak tersedia di Internet. Meski demikian beberapa telah melangsungkan operasionalnya dengan IPv6, misalnya untuk e-mail, dan web, salah satu contoh yang dapat anda test adalah halaman http://www.itb.ac.id.

4. Kendala Implementasi Jaringan

Dalam upaya untuk mengimplementasikan network IPv6, di jaringan luar yang terhubung ke Internet ITB tidak mengalami kendala yang berarti karena menggunakan PC-router yang telah mendukung IPv6 baik sistem operasi maupun aplikasi routing daemon yang digunakannya.
Kendala utama muncul saat akan mendeploy ke backbone-kampus seperti telah disebutkan pada point sebelumnya.
backbone terbentuk oleh empat buah router utama yang saling terhubung dengan dua router lainnya melalui GigabitEthernet yang menggunakan kabel fiber optik. Keempat router menggunakan vendor cisco produk seri router-switch catalyst 6000. Pada saat deployment IPv6 direncanakan, seri ini belum mendukung IPv6, karena itu menjadi mustahil bagi kami bila hendak mendistribusikan IPv6 ke subnet-subnet yang ada di ITB, karena semua assignment subnet terjadi di interface-interface VLAN dari router-router ini, ditambah lagi protokol routing yang disupport saat ini hanya OSPFv2 yang digunakan untuk protokol routing IPv4 internal ITB.
Pada saat itu sempat terpikir untuk menggunakan solusi tunneling IPv6 over IPv4 yang umum digunakan oleh kalangan pengguna IPv6 di Internet yang belum memiliki konektivitas IPv6 yang native.
PC-router digunakan untuk mengenkapsulasi paket-paket IPv6 menjadi IPv4 sehingga dapat dilewatkan melalui jaringan IPv4 yang sudah ada, dalam hal kasus ini adalah ke-4 router backbone.
Setelah dipertimbangkan ternyata solusi ini tidak cocok untuk menghubungkan banyak subnet seperti di ITB, karena bila demikian di setiap subnet yang ada keberadaan sebuah router tambahan dibutuhkan, selain itu konfigurasi tunneling merupakan Point to Point yang mengharuskan setiap router mengkoneksikan ke lebih dari satu router, sehingga topologi akan menjadi rumit dan kompleks.

5. Solusi

Kendala terhadap keterbatasan router-router utama dapat diatasi dengan solusi (sementara) yang meskipun masih berbasiskan PC-router, tetapi menggunakan pendekatan yang berbeda, yaitu menggunakan kombinasi antara tunneling dan trunking.
Karena hampir seluruh subnet di ITB terhubung melalui router utama, maka titik-titik deployment oleh catalyst digantikan oleh PC-router yang telah mendukung IPv6 (baik O/S ataupun aplikasi routingnya) yang disambungkan ke salah satu portnya dan dikonfigurasi sebagai trunk.

5.1. Koneksi intra area

Setiap router utama merupakan titik deployment dari link-link (yang didefinisikan oleh VLAN interfaces) yang secara fisik terhubung kepadanya. Ide dasarnya adalah dengan memanfaatkan satu buah port yang dikonfigurasi sebagai trunk, maka kami dapat menjangkau seluruh VLAN yang ada, dan pada port ini kami menyambungkan sebuah PC-router.
Setelah interface fisik terhubung ke port-trunk, maka saat itu pula semua VLAN/link yang terhubung pada port-port lain dari switch dapat diterima, sehingga kami hanya perlu mengkonfigurasi secara software VLAN interfaces pada PC-router untuk terhubung ke VLAN.
Dengan situasi seperti ini kami hanya memanfaatkan router utama sebagai perangkat L2 (pendefinisi VLAN), sedangkan L3 IPv6 akan di-bypass, dan didefinisikan oleh subnet-subnet IPv6 yang akan dikonfigurasikan pada VLAN interfaces dari PC-router.

5.2. Koneksi Inter-Area dan Topologi

Karena semua titik deployment dibawah router-router utama telah dapat digantikan oleh empat buah PC-router, maka interkoneksi keseluruhan hanya perlu dilakukan di antara mereka dan upstream router. Kendala baru muncul karena interkoneksi di antara router utama yang ada pada gambar 1 menggunakan port-channel yang masih bergantung pada routing protokol OSPFv2 (IPv4).
Karena tidak ada pilihan link fisik lain, tidak ada jalan lain selain menumpangkan kepada infrastruktur IPv4 yang ada melalui tunneling antar PC-router.
Koneksi full-mesh antar PC-router dilangsungkan dengan mengkonfigurasi tunneling IPv6 over IPv4 setiap PC-router menuju ke tiga PC-router lainnya.
Dengan demikian koneksi native IPv6 terjadi pada inter-area dan koneksi tunnel terjadi bila menyeberangi antar area yang dihandle oleh PC-router yang berbeda.
Dari ‘manipulasi’ Layer 2 yang dilakukan pada keempat titik deployment, setidaknya beberapa keuntungan telah diraih:
1. Mempertahankan konsistensi hirarki jaringan, karena bila dibandingkan hasil traceroute IPv4 dan IPv6, tidak ada penambahan hop atau perubahan path, yang ada hanya perubahan hop yang dihuni oleh cisco router menjadi PC-router saja.
2. Pada saatnya bila akan dilakukan migrasi karena router-router utama telah diupgrade atau diganti sehingga mendukung IPv6, yang perlu dilakukan hanya memindahkan konfigurasi subnet dari keempat PC router ke router utama, dan menghapus keberadaan PC-router.

6. Routing IPv6

Untuk koneksi di dalam jaringan internal ITB, keempat PC-router telah operasional untuk mendistribusikan prefix 2001:200:830::/44 dengan stateless autoconfiguration ke subnet-subnet IPv4 yang telah ada, dengan menggunakan protokol IGP OSPFv3 yang diimplementasikan oleh aplikasi routing zebra. Pemilihan OSPFv3 semata untuk mempertahankan konsistensi dari protokol OSPF yang beroperasi pada network IPv4 yang sudah ada, ditambah alternatif lain RIPng masih memiliki kelemahan dari protokol RIPv2 yang membatasi diameter dari network hanya sebanyak 15 hop yang akan mempengaruhi skalabilitas di masa mendatang. Adapun keputusan untuk mendeploy ke subnet-subnet IPv4 yang telah ada diambil dengan alasan untuk memperluas jangkauan jaringan IPv6 kampus, sehingga setiap subnet IPv4 yang ada juga dapat melakukan koneksi IPv6 melalui link yang sama, tanpa harus terkoneksi ke subnet IPv6 yang dedicated. Hal ini membawa konsekuensi bagi pengelola jaringan untuk mengoperasikan dual-stack network bagi subnetnya, meski demikian hal ini memang direncanakan untuk mempermudah para para pengguna IPv4 untuk migrasi ke IPv6 only di masa mendatang.
Pada sisi upstream, ITB menggunakan router yang sama dengan koneksi IPv4, yaitu gerbang.itb.ac.id yang memiliki koneksi native IPv6 dengan upstream router di Jepang dengan menggunakan link KU-Band. Karena ITB mendapatkan prefix IPv6 dari AI3 yang merupakan bagian dari segment prefix 2001:200:: milik WIDE Project (organisasi induk dari AI3 di Jepang), maka policy-routing juga mengikuti apa yang telah dibuat di sana, antara lain kami hanya menggunakan interior routing OSPFv3 dengan partner AI3 yang lain, sedangkan koneksi keluar AS dilakukan oleh BGP4+ oleh router-router milik WIDE Project.

7. Penggunaan Pada Level Aplikasi

Sebagai mana telah dijelaskan pada point tiga, ITB masih berada di tahap-tahap awal dari masa transisi antara IPv4 ke IPv6, sehingga pengguna jaringan yang menggunakan IPv6 masih sedikit, ditambah keberadaan IPv4 sendiri belum tergantikan oleh IPv6. Meski demikian beberapa server-server ITB telah mulai menjalankan dual-stack servis, dimana akses dapat dilakukan baik dengan IPv4 ataupun IPv6. Server-server tersebut adalah ns1, ns2, mx1, mx2, mx3, serta www.itb.ac.id.

8. Rencana Mendatang

Saat ini sTLA prefix ITB menggunakan alokasi yang dimiliki oleh WIDE Project. Setelah 7 April 2003 yang lalu AI3 telah mendapatkan TLA baru 2001:d30::/32 dari APNIC. Diharapkan setelah bulan Juli 2003 ITB sudah dapat mulai menggunakan sTLA baru dan melakukan migrasi upper prefix, sehingga routing external dapat diatur sendiri oleh BGP router kami.

Banyaknya leaf subnet ::/64 yang terhubung hingga kini telah berjumlah 15, untuk mendatang semua subnet IPv4 yang ada akan diberikan prefix IPv6 untuk mendukung dual-stack environment di jaringan ITB dengan harapan untuk mempermudah pengguna IPv4 subnet untuk dapat terhubung pula secara IPv6 ke jaringan internal ITB maupun ke Internet.

Mendukung rencana untuk lebih memperbanyak host/node yang menjalankan IPv6, maka setiap entri pada DNS server ITB akan mulai dipopulasikan dengan IPv6 RR (Resource Records) disamping IPv4. Reverse-lookup yang saat ini belum dimiliki, diharapkan setelah proses migrasi prefix selesai, dapat segera dijalankan pada DNS server ITB

Untuk lebih memperbanyak pengguna IPv6 dan mempercepat proses utilisasi IPv6 di jaringan kampus, beberapa kegiatan terobosan diperlukan, diantaranya adalah menyediakan servis baru yang menarik sehingga akan banyak diakses orang, tetapi hanya dapat diakses melalui IPv6 saja. Ide yang telah tercetus untuk dapat direalisasikan dalam waktu dekat adalah multimedia streaming, misalnya audio maupun video streaming.

9. Penutup

Paper ini sudah membicarakan mengenai tahapan implementasi IPv6 di kampus ITB serta kendalanya. Lebih jauh diskusi tentang implementasi IPv6 di kampus ITB, para pembaca dapat mengikuti diskusi tersebut pada milis ipv6@itb.ac.id , pembaca dapat mendaftarkan diri melalui alamat:
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/ipv6

documentasi from Wahyu Hidayat,Affan Basalamah & Dikshie Fauzie

Selasa, September 18

cerita

aku punya cerita
ceritanya aku punya temen sebut saja namanya x dia seorang pribadi yang menyenangkan tapi dia ga pernah bisa mengungkapkan perasaanya pada seorang yang benar benar dia cintai
dia mencintai seorang sebutsaja namanya f
si f ini ga pernah memperhatiakan seseorang yang selalu memperhatiaknya dan selalu menjaga dia,si x ini mengungkapkan perasannya pada si f tapi dia dia ga pernah menjawab apa yang dia rasakan pada si x sampai sekarang pun hubunaganya menggantung kaya orang yang bunuh diri
si x bingung apa yang harus dia lakukan pada si f karna si f ga pernah memberiakn kepastian yang benar-benar dia mau ambil.
ya menurut saya sih kalo emang dia ga suka bilang aja engga kalo emang dia suka bilang aja suka,ya aku juga tau katanya dia lagi punya banyak masalah,padahal kalo si f bicara terus terang semua masalahnaya pada si x bahwadia lagi banyak masalah oleh sebab itu dia ga bisa jawab sekarang,mungkin dia akan ngertiin perasaanya ,tapijangan sampe keterusan ,masalahnya udah selesay dia malah lupa apa yang mesti dia ungkapkan pada si x sampesampe si x menunggu sesuatu yang ga bakalan menjadi kenyataan

istilah kerenya sih
bagaikan punduk merindukan bulan
ya maksud aku si supaya si x ga pernah menunggu jawaban terlalu lama supa ya dia bisa melihat dunia itu luas dan bukan si f saja yang ada di dunia ini masih banyak f , f yang lainya yang menanti si x yang emang bener -bener mencintai dia apa adanya
cerita ini hanya fiktif belaka jika sama kejadian,nama tokoh itu tidak aku sengaja

Senin, September 17

cara mengatur bios

Begini rekan-rekan, aku mau melakukan install CD Mandriva Linux 2007.1 ( Spring-Mandriva one-KDE i586 ) pakai cara Instalasi Dari CD-ROM .

Langkah pertama aku masukkan CD-1 Mandriva Spring 2007.1 Live Installation ke dalam CD-ROM Drive .

Pada Langkah Kedua ini, aku masih agak bingung :

BIOS sistem harus diatur terlebih dahulu, agar dapat melakukan booting dari CD-ROM pada prioritas pertama . Sebelum komputer dinyalakan .

BAGAIMANA CARA MENGATUR BIOS SISTEM INI ?

Pada PC saya start awal ketika menyalakan komputer terdapat 2 opsi perintah yaitu : Tekan F1 untuk continue dan Tekan DEL untuk SET UP !

Kalau ditekan DEL maka terdapat banyak pilihan-pilihan untuk SET-UP ( ROM PCI / ISA BIOS '6310 Plus' CMOS SET-UP UTILITY ), diantaranya seperti ini :

1. STANDART CMOS SET-UP
2. BIOS FEATURES SET-UP
3. CHIPSET FEATURES SET-UP
4. POWER MANAGEMENT SET-UP
5. PNP / PCI CONFIGURATION
6. LOAD BIOS DEFAULTS
7. LOAD SET-UP DEFAULTS
8. INTEGRATED PERIPHERALS
9. SUPERVISOR PASSWORD
10. USER PASSWORD
11. IDE HDD AUTO DETECTION
12. SAVE & EXIT SET-UP
13. EXIT WITHOUT SAVING

Dari sekian banyak pilihan SET-UP utility diiatas , komponen mana saja yang harus dilakukan perubahan setting yang berhubungan dengan Cara Mengatur Sistem BIOS , Agar dapat melakukan booting dari CD-ROM pada prioritas pertama ketika komputer dinyalakan .

Jika Pengaturan BIOS Sistem ini benar , maka akan muncul gambar tampilan awal instalasi Linux Mandrake / Mandriva , kemudian tekan tombol ENTER untuk memulai proses instalasi dengan modus grafik .

MOHON DIBERIKAN PETUNJUK ATAU INFORMASI-NYA DARI REKAN-REKAN Di Forum linux.or.id . SEKECIL INFORMASI APAPUN AKAN BERHARGA BUAT SAYA & MEMBAGI ILMU UNTUK ORANG LAIN YANG MEMBUTUHKAN ADALAH PERBUATAN MULIA !

Terimakasih banyak atas bantuan informasi / petunjuk yang akan diberikan !

From :
BANCI MONSTER
E-mail :
calonsurga@telkom.net

artikel router

Nich artikel mungkin bermanfaat bagi anda yang sedang membutuhkannya, kebetulan nich artikel aku dapetin ketika lagi jalan2 keliling blog, lalu aku dokumentasikan diblog untuk dipraktekan sendiri dan ngantri diblog draftku selama beberapa hari, dari pada mubadzir aku publish aja :D. Nach ini artikel tutorial instalasi Mikrotik Router OS versi 2.9, artikel ini aku kutip dari situsnya mas Vavai yang ditulis oleh Ahriyan Ibrahim berikut artikel lengkapnya :

Mikrotik dapat digunakan dalam 2 tipe, yaitu dalam bentuk perangkat keras dan perangkat lunak. Dalam bentuk perangkat keras, Mikrotik biasanya sudah diinstalasi pada suatu board tertentu, sedangkan dalam bentuk perangkat lunak, Mikrotik merupakan satu distro Linux yang memang dikhususkan untuk fungsi router. Mikrotik routerOS adalah sistem operasi dan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menjadikan komputer biasa menjadi router network yang handal,mencakup berbagai fitur yang dibuat untuk ip network dan jaringan wireless.
Fitur-fitur tersebut diantaranya : Firewall & Nat, Routing, Hotspot, Point to Point Tunneling Protocol, DNS server, DHCP server, Hotspot, dan masih banyak lagi fitur lainnya.
Komputer yang akan digunakan sebagai router network cukup dengan spesifikasi menengah, di tempat saya bekerja, Mikrotik dipergunakan pada cpu Pentium III 800 Mhz, RAM 512 mb dan hdd 10 Gb sebagai firewall dan hotspot server untuk melayani sekitar 150 user.
Berikut ini adalah step-step instalasi Mikrotik routerOS

Sebelumnya persiapkan dulu cd instalasi miktorik, kalau belum punya ya silahkan cari pinjaman atau download dulu file ISO mikrotik di sini. Setelah cd siap maka masukkan ke cdrom dan lakukan boot from cd.
pastikan komputer yang akan dipergunakan memiliki minimal satu ethernet card.
Setelah proses booting selesai maka akan muncul tampilan berikut (klik untuk gambar yang lebih jelas):
mikrotik
Tampilan diatas adalah pilihan paket-paket yang akan di install, tekan ‘a’ untuk menginstall semuanya dan diteruskan dengan menekan ‘I’ untuk melanjutkan proses instalasi.
Proses instalasi dilanjutkan dengan pembuatan partisi dan format harddisk, harap diingat bahwa mikrotik akan mengambil semua space yang ada di harddisk. karena itu tidak disarankan utk menginstall mikrotik pada harddisk operasional yang berisi data-data penting seperti mp3 atau mungkin file avi kesayangan anda. (lho kok data operasional penting mp3 dan avi .. jangan jangan :-D )
Setelah melakukan pembuatan partisi dan memformat harddisk maka tahap terakhir adalah menginstall paket-paket yang dipilih pada awal tadi ke dalam harddisk. setelah selesai tekan enter untuk reboot.
Mikrotik yang baru saja di download dan di install adalah versi shareware yang hanya bisa dipergunakan sementara dan akan bisa dipergunakan lebih lanjut bila melakukan registrasi terlebih dahulu, tapi jangan khawatir, versi ini sudah cukup untuk dipakai belajar kok.

Mikrotik telah selesai di install, dan bisa dipergunakan dengan login sebagai user admin dan tanpa password. Selanjutnya adalah setting network, sebagai contoh mikrotik akan diberi alamat ip 192.168.202.1 dengan netmask 255.255.255.0.
Untuk itu ketikkan pada console perintah berikut

/ip address add address=192.168.202.1 broadcast=192.168.202.255 network=192.168.202.0 netmask=255.255.255.0 interface=ether1
Nah sekarang mikrotik sudah bisa diremote baik dengan telnet maupun dengan Winbox. Winbox adalah sebuah utility untuk melakukan remote ke server mikrotik kita dalam mode GUI.
Untuk mendapatkan winbox, buka browser dan arahkan ke http://192.168.202.1/winbox/winbox.exe
Berikut ini screenshot dari winbox tersebut

Demikian step-step instalasi mikrotik yang bisa saya sampaikan, selanjutnya Insya Alloh di kesempatan lain akan saya lanjutkan dengan konfigurasi fitur-fitur mikrotik lainnya.
Selamat mencoba

komputer masa depan.........

Mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu .. laptop merupakan suatu perangkat komputer yang sangat didamba-dambakan oleh kalangan yang berkecimpung atau pengguna IT .. selain dapat digunakan dimana saja dan juga merupakan Gaya Hidup seorang profesional .. kemana-mana bisa dibawa dan digunakan, baik di kantor maupun cafe sambil nongkrong dan minum kopi .. tapi tanpa disadari saat ini harga laptop semakin hari semakin menurun bahkan saat ini harga laptop ada yang <= 5 JT rupiah .. wah alhasil banyak orang menggunakan laptop .. baik dari merek-merek terkenal maupun merek asia dan bahkan merek lokalpun turut ikut dalam kancah bisnis tersebut .. Rekan-rekan sekalian tahu ngak kenapa kok bisa begitu .. coba tebak !!!, saat ini negara “berorang-orang ingin maju dan pintar” telah membuat suatu teknologi didalam dunia IT .. yang akan menggeser posisi komputer dan laptop .. yakni seperti gambar dibawah ini .. nah saat ini negara Indonesia tercintaku masih menjadi pemakai saja .. tapi memang begitu adanya .. kampus-kampus di kita kebanyakan mempersiapkan untuk menjadi pekerja saja bukan peneliti atau orang untuk melakukan riset .. trus kalangan orang-orang terkenal dan hebat di dunia IT kebanyakan cuman bisa jual cuap-cuap dengan modal power pointnya … menyedihkan tapi inilah kondisi kita .. dan bersiap-siaplah menjadi “Tempat Pembuangan Komputer Dunia”. Berikut ini gambar-gambar komputer masa depan:

Sumber: http://dedenthea.wordpress.com/2007/07/27/kembali-ke-tempat-pensil/
















Selasa, September 11

tentang saya

untuk anak2 yang merasa saya aga jutek maaf ya
saya oranya agak keras dan jutek ya itulah saya jika anda merasa tidak berkena maaf ya


selamat menunaykan ibadah puasa
semoga amal ibadahnya diterima

apa itu visat?????????

Perkembangan Teknologi Informasi saat ini sangat cepat yang diimbangi dengan perubahan bisnis perusahaan, dimana saat ini setiap perusahaan atau institusi menggunakan suatu solusi IT contohnya saja penggunaan TI dalam bidang Komunikasi Data. Ada banyak perusahaan baik yang menjadikan IT sebagai senjata utama atau hanya sebagai tools menggunakan komunikasi data untuk mengintegrasikan sistem mereka dalam satu jaringan yang terpusat. Secara Garis besar teknologi Komunikasi data dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu komunikasi data berbasis Satelite, Wireless, dan Teresterial. Penjelasan berikut penulis mencoba untuk menjelaskan beberapa teknologi yang digunakan dalam komunikasi data.



VSAT = Very Small Aperture Terminal


VSAT kependekan dari Very Small Aperture Terminal, sebuah terminal yang digunakan dalam komunikasi data satelit, suara dan sinyal video, tidak termasuk broadcast televisi. VSAT terdiri dari dua bagian, sebuah transceiver yang ditempatkan di luar (out doors) yang dapat langsung terjangkau oleh satelit dan sebuah alat yang di tempatkan di dalam ruangan yang menghubungkan transceiver dengan alat komunikasi para pengguna, PC misalnya. Transceiver menerima dan mengirim sinyal ke transponder satelit di langit. Satelit mengirim dan menerima sinyal dari sebuah ground station komputer yang berfungsi sebagai hub untuk sistem tersebut. Masing-masing komputer pengguna terhubungkan oleh hub ke satelit, membentuk sebuah topologi bintang (star topology). Hub tersebut mengatur keseluruhan operasional network. Agar sebuah komputer pengguna dapat melakukan komunikasi dengan lainnya, transmisinya harus terhubung dengan hub yang kemudian mentransmisikan kembali ke satelit, setelah itu baru dikomunikasikan dengan komputer pengguna VSAT yang lain.

Sebenarnya piringan VSAT tersebut menghadap ke sebuah satelit geostasioner. Satelit geostasioner berarti satelit tersebut selalu berada di tempat yang sama sejalan dengan perputaran bumi pada sumbunya. Satelit geostasioner mengorbit selalu pada titik yang sama di atas permukaan bumi, katakanlah di atas Monas, maka dia akan selalu berada di atas sana dan mengikuti perputaran bumi pada sumbunya. Sistem ini mengadopsi teknologi TDM dan TDMA. Umumnya konfigurasi VSAT adalah seperti bintang. Piringan yang ditengah disebut hub dan melayani banyak piringan lainnya yang berlokasi di tempat yang jauh. Hub berkomunikasi dengan piringan lainnya menggunakan kanal TDM dan diterima oleh semua piringan lainnya. Piringan lainnya mengirimkan data ke hub menggunakan kanal TDMA. Dengan cara ini diharapkan dapat memberikan koneksi yang baik untuk hubungan data, suara dan fax. Semua lalu lintas data harus melalui hub ini, bahkan jika suatu piringan lain hendak berhubungan dengan piringan lainnya. Hub ini mengatur semua rute data pada jaringan VSAT. Frame TDM selalu berukuran 5.760 byte.

Setiap frame memiliki 240 sub-frame. Setiap subframe adalah 24 byte. Panjang waktu frame tergantung pada data rate outbound yang dipilih. TDMA selalu pada 180 ms. TDMA disinkronisasi untuk memastikan bahwa kiriman data yang berasal dari stasiun yang berbeda tidak bertabrakan satu dengan yang lainnya. satelit komunikasi. Kinerja yang utama dari pada sistem satelit untuk aplikasi ini adalah Receive G/T, EIRP dan Linieritas Penguat Daya. Besarnya nilai G/T dan EIRP akan sangat menentukan sekali besarnya ukuran terminal VSAT, yang pada akhirnya menentukan nilai ekonomisnya. Namun penambahan EIRP dan G/T akan menyebabkan harga satelit menjadi naik. Oleh karena itu penentuan karakteristik payload transponder merupakan salah satu kunci sukses agar sistem multimedia dapat berjalan dengan baik.

Pada bagian selanjutnya kita akan membahas tentang kerakteristik dari pada payload transponder satelit yang merupakan inti dari pembahasan ini.Sistem satelit yang banyak dipakai pada saat ini adalah satelit yang non regenerative yaitu hanya melakukan fungsi merelay tanpa ada pemrosesan sinyal baik itu modulasi dan demodulasi. Penggunaan sistem satelit regenaratif akan menyebabkan harga dari satelit ituakan naik dikarenakan teknologi yang dipergunakan untuk aplikasi di ruang angkasa belum banyak dipakai untuk mencapai nilai ekonomisnya.

sate3.jpg sate5.jpg

sate6.jpg

Di Amerika pada awal 80-an muncul teknologi komunikasi satelit dengan antena kecil, yang mampu menghubungkan point to multipoint atau sebaliknya multipoint to point. Teknologi itu terkenal dengan sebutan VSAT (Very Small Aperture Terminal). VSAT masuk pertama ke Indonesia tahun 1989 seiring dengan bermunculnya bank-bank swasta yang sangat membutuhkan system komunikasi online seperti ATM (Automated Teller Machine). Pemanfaatan VSAT di Indonesia termasuk yang pertama di Asia Tenggara, yang dipelopori olehperusahaan swasta nasional PT Citra Sari Makmur (CSM) dengan lisensi PT TELKOM. CSM mulai beroperasi awal 1990 dengan memanfaatkan satelit PALAPA. Saat ini selain CSM ada 3 operator VSAT swasta yaitu Lintasarta, Elektrindo Nusantara dan Rintis Sejahtera (Primacom). Pangsa pasar terbesar masih dikuasai CSM. Di luar itu masih ada 2 operator yang hanya melayani kalangan sendiri, Dwi Mitra (kelompok Garuda Indonesia) dan BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika).

sate7.jpg

Keuntungan dengan VSAT

1. Koneksi dimana saja. Tidak perlu LOS dan tidak ada masalah dengan jarak,

2. Jangkauan cakupannya yang luas baik nasional, regional maupun global.

3. Pembangunan infrastrukturnya relatif cepat untuk daerah yang luas, dibanding teresterial.

4. Komunikasi dapat dilakukan baik titik ke titik maupun dari satu titik ke banyak titik secara broadcasting, multicasting

5. kecepatan bit akses tinggi dan bandwidth lebar. VSAT bisa dipasang dimana saja selama masuk dalam jangkauan satelit,

6. Handal dan bisa digunakan untuk koneksi voice, video dan data, dengan menyediakan bandwidth yang lebar

7. jika ke internet jaringan akses langsung ke ISP router dengan keandalannya mendekati 100%

8. Sangat baik untuk daerah yang kepadatan penduduknya jarang dan belum mempunyai infrastuktur telekomunikasi.

9. harga relatif mahal karena menyewa dengan sebuah provider

Kerugian VSAT

  1. Untuk melewatkan sinyal TCP/IP, besarnya throughput akan terbatasi karena delay propagasi satelit geostasioner. Kini berbagai teknik protokol link sudah dikembangkan sehingga dapat mengatasi problem tersebut. Diantaranya penggunaan Forward Error Correction yang menjamin kecilnya kemungkinan pengiriman ulang.
  2. Waktu yang dibutuhkan dari satu titik di atas bumi ke titik lainnya melalui satelit adalah sekitar 700 milisecond, sementara leased line hanya butuh waktu sekitar 40 milisecond. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh oleh data yaitu dari bumi ke satelit dan kembali ke bumi. Satelit geostasioner sendiri berketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan bumi.
  3. Curah Hujan yang tinggi, Semakin tinggi frekuensi sinyal yang dipakai maka akan semakin tinggi redaman karena curah hujan. Saat ini band frekuensi yang banyak dipakai untuk aplikasi broadcasting adalah S-band, C-Band dan Ku-Band. Untuk daerah seperti Indonesia dengan curah hujan yang tinggi penggunaan Ku-band akan sangat mengurangi availability link satelit yang diharapkan. Sedangkan untuk daerah daerah sub tropis dengan curah hujan yang rendah penggunaan Ku-Band akan sangat baik. Pemilihan frekuensi ini akan berpengaruh terhadap ukuran terminal yang akan dipakai oleh masing masing pelanggan.
  4. Rawan sambaran petir gledek
  5. Sun Outage, Sun outage adalah kondisi yang terjadi pada saat bumi-satelit-matahari berada dalam satu garis lurus. Satelit yang mengorbit bumi secara geostasioner pada garis orbit geosynchronous berada di garis equator atau khatulistiwa (di ketinggian 36.000 Km) secara tetap dan mengalami dua kali sun outage setiap tahunnya. Energi thermal yang dipancarkan matahari pada saat sun outage mengakibatkan interferensi sesaat pada semua sinyal satelit, sehingga satelit mengalami kehilangan komunikasi dengan stasiun bumi, baik headend/ teleport maupun ground-segment biasa.
  6. Debu Meteroit,
  7. Seringkali menembakan gas hydrazine (H2Z) agar rotasi satelit agar satelit stabil di orbit, satelit perlu beberapa kali di kalibrasi agar tetap pada orbitnya. Bersambung …..

Sumber : http://www.goes.noaa.gov/, http://www.weather.gov/sat_tab.php?image=ir, http://www.lyngsat.com/

About Me

kuningan, jawa barat/indonesia
teman jika kamu menyukai seseorang maka cepatlah kamu ungkapkan janganlah kamu menunggu terlalu lama